WHO Khawatir Terkait Lonjakan Kasus Covid-19 di Eropa
24 November 2021
BAGIKAN :        
Ilustrasi kantor WHO. Badan Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (23/11) menyatakan kekhawatirannya bahwa angka kematian bakal melonjak jika tren saat ini terus berlanjut. (Reuters)
Radartasik.com – Gelombang penularan baru Covid-19 di Eropa tidak bisa dipandang sebelah mata. Badan Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (23/11) menyatakan kekhawatirannya bahwa angka kematian bakal melonjak jika tren saat ini terus berlanjut. Yakni, dari 1,5 juta kematian yang sudah tercatat menjadi 2,2 juta jiwa pada Maret 2022. Artinya, dalam empat bulan, diprediksi ada 700 ribu korban yang muncul dari Benua Biru.

’’Diperkirakan, ICU di 49 dari 53 negara di Eropa bakal mengalami tekanan tinggi atau bahkan ekstrem, mulai dari sekarang hingga 1 Maret 2022 nanti.’’ Demikian bunyi pernyataan WHO, seperti dikutip Agence France-Presse.

Negara-negara di Eropa kini memutar otak agar lonjakan kasus tidak terus meroket. Rata-rata berusaha mendorong penduduknya yang belum divaksin agar segera melakukannya. Sebab, mereka yang divaksin, meski tertular, gejalanya tidak parah. Sebagian besar cukup dirawat di rumah. Itu berbanding terbalik dengan yang belum mendapatkan vaksin. Mereka kebanyakan berlanjut di rumah sakit, atau bahkan dirawat intensif di ruang ICU.

’’Mungkin pada akhir musim dingin ini hampir semua orang Jerman akan divaksin, sembuh (dari Covid-19) atau meninggal,’’ ujar Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn.

Saat ini ruang ICU di beberapa RS terisi dengan cepat. Pemerintah Jerman pun kembali memberlakukan sejumlah pembatasan. Termasuk menutup pasar Natal. Di wilayah-wilayah yang kasusnya tinggi, mereka yang belum divaksin dilarang pergi ke tempat umum seperti bioskop, tempat olahraga, dan restoran di dalam ruangan.

Hampir di semua negara, termasuk Eropa, ada kelompok-kelompok antivaksin. Mereka pun didorong agar mau segera disuntik. Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan bahwa melarang penduduk yang tidak divaksin ke tempat umum tidaklah cukup.

’’Situasi saat ini dramatis karena angka penularan baru naik dua kali lipat tiap 12 hari,’’ tegas Merkel, seperti dikutip Al Jazeera.

Senin (22/11), angka penularan baru di Jerman mencapai 30.634 kasus dengan angka kematian harian 62 orang. Total kasus sejak awal pandemi mencapai 5,3 juta kasus. Sejauh ini, hampir 100 ribu orang berakhir dengan meninggal dunia.

Di sisi lain, Austria memberlakukan lockdown nasional untuk mengatasi lonjakan penularan. Angka kematian akibat Covid-19 di sana naik tiga kali lipat pada beberapa pekan terakhir. Mayoritas ICU hampir penuh. Lockdown itu bakal berlangsung 10 hari dan bisa diperpanjang hingga 20 hari. Austria menjadi negara pertama di Eropa Barat yang memberlakukan lockdown nasional, setelah vaksinasi massal di seluruh dunia.

Nasib yang tak kalah mengenaskan terjadi di Rumania. Banyak penduduk di negara tersebut yang antivaksin. Angka vaksinasinya kurang dari 36 persen. Saat ini bukan hanya kasus penularan yang naik, tapi juga pasien yang harus dirawat di RS. Rata-rata mereka mengalami gejala parah. Kapasitas kamar mayat di Bucharest University Hospital hanya 15, tapi kemarin ada 41 kantong jenazah pasien Covid-19. Hal serupa terjadi di beberapa RS lain.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Senin memberikan peringatan agar warga tidak melakukan perjalanan ke Jerman dan Denmark. Kasus Covid-19 di dua negara itu sedang tinggi-tingginya. Mereka mengeluarkan travel advisory level 4 untuk dua negara tersebut. Itu adalah level peringatan tertinggi. (jpg)

#beritaradar #beritaradartasikmalaya #beritatasik #kotatasik #kotatasikmalaya #tasikmalaya
BAGIKAN :        

Komentar