Vaksinasi Remaja di Garut Masih Rendah
15 September 2021
BAGIKAN :        
Ilustrasi vaksin Johnson and Johnson. Foto: JPNN
radartasik.com, TAROGONG KIDUL – Angka vaksinasi terhadap remaja di Kabupaten Garut masih rendah. Baru mencapai 4,6 persen dari jumlah sasaran 293.330 orang.

Anggota Komisi 4 DPRD Kabupaten Garut Yudha Pudja Turnawan khawatir, karena proses pembelajaran tatap muka telah berlangsung hampir satu bulan. “Kalau belajar tatap muka ini dimulai, harusnya 50-70 persen siswa sudah divaksin, sehingga bisa lebih tenang,” ujar Yudha kepada wartawan, Selasa (14/9/2021).

Yudha menerangkan proses pembelajaran tatap muka dilakukan karena Kabupaten Garut masuk PPKM level 2. Selain itu berdasarkan surat keputusan bersama empat menteri, pembelajaran tatap muka dapat dilakukan bila para guru dan staf pendidikan telah melakukan vaksinasi. “Seharusnya, siswa dulu yang diperhatikan (vaksinasi) karena mereka yang paling rentan (tertular),” ujarnya.



Berdasarkan hasil survei di lapangan, kata dia, banyak sekolah yang belum melakukan vaksinasi. Bahkan dia sempat berinisiatif melakukan kegiatan vaksinasi di salah satu sekolah di kecamatan Cilawu dan Cisurupan. “Dinas Pendidikan harusnya lebih agresif untuk komunikasi dengan tim kesehatan, agar vaksinasi terpusat di sekolah,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Garut hingga 7 September 2021, jumlah usia remaja yang telah melakukan vaksinasi dosis pertama baru 4,6 persen atau sekitar 13.462 orang. Angka itu masih jauh dari target 293.330 orang. Sedangkan yang telah melakukan vaksinasi dosis kedua baru mencapai 2,6 persen yakni sebanyak 7.725 orang.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dr Leli Yuliani mengatakan vaksinasi di intansi dapat dilakukan bila adanya permintaan. Vaksinasi tidak bisa dilakukan bila hanya satu atau dua orang. Minimal vaksin dilakukan dalam satu kelompok 10-15 orang.

Pelaksanaan vaksinasi di sekolah belum dapat dilaksanakan secara gencar. Alasannya karena ketersediaan vaksin terbatas. “Kita minta bantuan vaksin ke TNI Polri bila cadangan di kita kosong,” ujarnya.

Pemberian vaksin kepada siswa dan mahasiswa harus secepatnya dilakukan. Alasannya karena mobilitas anak tinggi di saat proses pembelajaran.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut Totong mengaku untuk mengantisipasi terjadinya penyebaran virus di sekolah, pihaknya melakukan pengetatan protokol kesehatan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni setiap guru terus memberikan pemahaman kepada siswa terkait pentingnya kebersihan dan kesehatan. “Materi kesehatan jadi program wajib dalam setiap pertemuan dengan siswa,” ujarnya.

Selama proses pembelajaran tatap muka, tak ditemukan kasus positif di sekolah. Jumlah sekolah yang melakukan tatap muka di Garut, dari mulai PAUD sampai SMA/SMK mencapai empat ribuan satuan pendidikan.

Totong berharap pemberian vaksin kepada siswa dapat dilakukan secepatnya. “Siswa kami yang berusia remaja ini mencapai 600 ribuan. Kami harap mereka minimal dapat vaksin dosis satu, agar tercipta herd immunity,” paparnya. (yna)


BAGIKAN :        

Komentar