Digitalisasi Jadi Senjata Utama BRI Hadapi Tantangan Bisnis Mikro dan Ultra Mikro
13 October 2021
BAGIKAN :        
BRI dengan layanan digitalnya terus melayani berbagai kalangan.
Radartasik.com, JAKARTA – Digitalisasi kini menjadi senjata utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI untuk menghadapi tantangan dalam pengembangan bisnis mikro dan ultra mikro. Hal ini seiring dengan  berjalannya lini usaha baru dari Holding Ultra Mikro (UMi) bersama PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. 

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan saat ini terdapat dua tantangan utama dalam menangani bisnis mikro dan ultra mikro, yaitu tingginya operational cost dan operational risk, khususnya pada pelayanan nasabah yang melakukan transaksi secara manual. 

“Digitalisasi bisa dijadikan senjata utama dalam menghadapi kedua tantangan tersebut. Melalui digitalisasi, tingginya operational cost dan operational risk yang terutama disebabkan karena faktor human error akan lebih terkendali,” ujar Sunarso.

Kendati demikian diakui Sunarso, digitalisasi juga memiliki tantangan tersendiri dikarenakan banyaknya  masyarakat Indonesia yang masih belum melek digital. Oleh karena itu, transisi menuju masyarakat digital pun membutuhkan effort lebih.  

Salah satunya dengan mendorong SDM yang ada agar lebih berperan di garis depan, yakni berinteraksi langsung dengan masyarakat sebagai penyuluh digital dan mengajari masyarakat secara digital. 




Terkait optimisme digitalisasi saat pandemi Covid-19, Sunarso justru memandang,  kondisi pandemi dapat mempercepat proses tersebut di tengah masyarakat. Bahkan pandemi terbukti dapat menjadi akselerator proses digitalisasi. 

Sebagai contoh, penggunaan BRImo terus menunjukan peningkatan signifikan hingga mencapai 86,7% dari 11,7 juta pengguna per Juni 2021. Sedangkan pengguna QRIS melalui BRI terdapat sekitar 1 juta merchant per September 2021 atau meningkat 700%. Sepanjang 2021 jumlah transaksi melalui e-channel BRI menembus 5,7 miliar.

Sedangkan terkait dengan optimisme pertumbuhan kredit, Sunarso tetap optimistis akan terus tumbuh, karena di saat kredit (industri perbankan) yang hanya tumbuh kurang dari satu persen saat pandemi ini justru di BRI kredit mikro mampu tumbuh 17 persen.

Seperti diketahui, dalam rangka pembentukan holding ultra mikro, BRI telah merampungkan aksi korporasi rights issue dengan nilai total Rp95,9 triliun. Adapun sebesar Rp54 triliun di antaranya berupa non cash berbentuk inbreng saham pemerintah di Pegadaian dan PNM. Selebihnya, Rp 41 triliun adalah dana tunai dari investor publik. Bahkan rights issue BRI ini pun mengalami oversubscribe sampai 1,53%.

Sunarso pun menjelaskan, dana segar yang digunakan untuk membiayai Holding UMi tersebut akan lebih diprioritaskan untuk pemberdayaan sekitar 14 juta pelaku usaha ultra mikro yang sama sekali belum mendapatkan kucuran dana pengembangan usaha.

Apalagi berdasarkan riset perseroan menunjukkan bahwa pada 2019 terdapat sekitar 46 juta pengusaha UMi di Tanah Air. Dari jumlah itu sekitar 20 juta sudah terlayani lembaga keuangan formal seperti Bank, BPR, koperasi simpan pinjam, dan fintech. Sedangkan sekitar 26 juta pelaku usaha UMi lainnya belum terlayani lembaga keungan formal. 

“Bahkan terdapat 14 juta yang belum terlayani sema sekali. Maka fokus BRI diarahkan untuk mempercepat dalam memberikan layanan kepada yang belum disentuh lembaga keuangan formal tersebut,” kata Sunarso. 

“Selanjutnya, kami pun akan mengembangkan layanan kepada mereka yang selama ini dilayani rentenir atau yang pinjam ke kerabat dan lain-lain agar dapat dimasukan ke dalam sistem keuangan yang formal. Saya kira itu dulu yang paling penting yang menjadi prioritas dalam waktu dekat ini,” tuturnya lagi.

Sementara itu, terkait dengan sebaran penyaluran dan pemberdayaan, Sunarso mengatakan pihaknya akan berkaca dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dimana selama ini yang menerima KUR paling banyak adalah di Jawa dan Bali serta sebagian Sumatra.

 “Oleh karena itu kami juga akan melihat kepadatan penduduk dalam satu wilayah atau density dalam melakukan pemberdayaan dan penyaluran kredit nantinya,” ungkapnya. (rls/red)


BAGIKAN :        

Komentar