Golkar Kota Tasik Terus Tancap Gas
23 February 2021 17:00 WIB
MUSLUR. Wakil Ketua DPD Golkar Kota Tasikmalaya Asep Azwar Lutfi saat menghadiri Muslur di Kelurahan Leuwiliang, Kawalu, Minggu malam (22/2/2021).
KAWALU – Meski agenda politik terdekat, yakni Pilkada 2022 kemungkinan bergeser ke tahun 2024. DPD Golkar Kota Tasikmalaya tidak terpengaruh, mereka terus merapikan struktur sampai ke tingkatan bawah.

Wakil Ketua Bidang Organisasi DPD Golkar Kota Tasikmalaya, Asep Azwar Lutfi mengatakan saat ini pihaknya terus maraton menyelenggarakan musyawarah di setiap kelurahan.

Sejak Musyawarah Kecamatan (Muscam) tuntas di akhir Januari 2021, musyawarah kelurahan (Muslur) ngabret diselenggarakan satu persatu.

“Alhamdulillah, terakhir tadi malam di Kelurahan Leuwiliang, Kawalu kita sudah musyawarah ke 44 titik. Tersisa 25 kelurahan lagi yang insya allah akan kita tuntaskan sesegera mungkin,” ucap Asep saat menghubungi Radar, Senin (22/2/2021).

Menurut Asep, kalender politik tidak mempengaruhi gerilya pengurus untuk maraton mengerjakan strukturisasi keanggotaan di setiap wilayah. Sehingga, mesin organisasi terus menghangat dan bisa dipanaskan dengan singkat, ketika menghadapi agenda politik.

“Kita sedang on fire membariskan kader di setiap kelurahan. Jadi, kalender politik kapan pun dibutuhkan kita siap ngabret,” optimisnya menegaskan.

Pada upaya restrukturisasi kepengurusan baru tersebut, sejumlah tokoh di lingkungan warga yang sempat tidak eksis di periode kepengurusan lalu, kembali aktif di Golkar. Bahkan, beberapa kader dari parpol lain turut bergabung di wilayah, yang memiliki masa dan pengaruh cukup tinggi di lingkungannya masing-masing.

“Tidak hanya itu, kepengurusan di wilayah juga banyak masuk dari kalangan milenial. Maka kita optimis, mesin baru beringin bisa menyentuh segala segmentasi dalam meraih dukungan di agenda politik mendatang,” ungkap dia.

Dia menambahkan setelah jumlah pengurus yang gemuk di setiap wilayah kelurahan terbentuk, DPD Golkar mengagendakan pendidikan kader (Dikder) dan intens berkonsolidasi serta komunikasi. Bergerak masif dalam meraih dukungan dan simpati publik di wilayah masing-masing.

“Jadi gerak terus tidak tukcing (dibentuk cicing, Red). Setelah itu kita lanjutkan pembentukan Pokar (Kelompok Kader, Red) di setiap RW. Kapanpun mesin dibutuhkan, kerja politik tinggal gas,” ucap mantan aktivis mahasiswa tersebut. (igi)
Komentar