2.000 Santri Cipasung Tasik Mudik Tanggal 3 Mei
30 April 2021
Pondok Pesantren (Ponpes) Cipasung sedang menyiapkan mudik ribuan santri yang akan dilaksanakan pada Senin 3 Mei 2021.
SINGAPARNA - Larangan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) terhadap dispensasi bagi santri untuk mudik lebaran tidak menyurutkan pondok pesantren (Ponpes) di Kabupaten Tasikmalaya tidak memulangkan santrinya, salah satunya Ponpes Cipasung.

Pemulangan santri tersebut dilakukan sebelum tanggal 6 Mei 2021 sesuai surat imbauan dari kepolisian dan Satgas Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya dengan mulai dilakukan penyekatan pemudik.

Wakil Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin SPd MAP mengatakan, setelah pemerintah daerah melaksanakan vikon secara virtual bersama kementerian, Satgas Covid-19 nasional dan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil termasuk wali kota dan bupati di Jabar.

“Jadi hasil pembahasannya termasuk soal penyekatan pemudik dan pemulangan santri ada rentan waktu sebelum tanggal 5 Mei. Karena setelah masuk 6-17 Mei sudah tidak diperbolehkan ada aktivitas pemudik,” terangnya, Kamis (29/4/2021).

Pada prinsipnya, kata Cecep, pemerintah daerah pasti tegak lurus dengan apa kebijakan yang diambil pemerintah pusat. “Kita sayang kepada masyarakat kita, maka dianjurkan untuk menaati kebijakan pemerintah,” kata dia.

Maka dari itu, ungkap dia, kerumunan orang pada momen lebaran atau mudik ini jangan sampai terjadi dan mengakibatkan penyebaran Covid-19.

“Bukan maksud untuk mendegradasi nilai-nilai keagamaan dan silaturahmi. Tapi prinsipnya bagaimana kita saling menjaga, menyelamatkan dan menghindari kemudaratan. Penyekatan pemudik ini salah satunya menghindari kemudaratan,” terangnya.

Koordinator Kesekretariatan Pondok Pesantren (Ponpes) Cipasung H Agus Rahmatull Wahab menuturkan, untuk santri asal luar Tasikmalaya yang mondok sudah berangsur pulang ke kampung halamannya sejak 26 April lalu.

“Iya santrinya sudah ada yang pulang bertahap, walaupun baru per orangan. Jadi yang banyaknya itu, pemulangan santri di pusatkan Senin (3/5), yang akan dilaksanakan di lapangan Hellipad Cipakat, Cipasung,” ujarnya kepada Radar, Kamis (29/4).

Menurutnya, pemulangan santri Cipasung dari jumlah 2.800 orang, asal luar daerahnya sekitar 2.000-an ini nanti teknisnya akan dilakukan penjemputan oleh organisasi daerah (Orda) masing-masing daerah asal kampung halaman santri tersebut.

“Jadi nanti rombongan Orda masing-masing daerah menjemput santri menggunakan bus pada Senin (3/ 5). Jadwalnya ada yang sore dan malam agar bisa sahur di jalan, dan sampai di daerahnya pagi,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, rombongan Orda yang akan melakukan penjemputan pemulangan santri seperti dari daerah Karawang, Majalengka, Kuningan, Bandung, Bekasi, Jakarta serta daerah lainnya. “Masing-masing daerah ada yang menyiapkan tiga sampai empat bus,” paparnya.

Pemulangan santri secara bertahap ini, ungkap dia, dilaksanakan oleh pesantren sesuai imbauan dan instruksi dari pemerintah daerah termasuk Satgas Covid-19 kabupaten bersama kepolisian yang sudah memberikan surat imbauan.

“Sesuai surat imbauan pemerintah dan kepolisian sebelum tanggal 6 Mei, pemulangan santri ke luar daerah harus sudah dilaksanakan oleh pesantren,” kata dia.

“Dan untuk Cipasung kita terakhir pemulangan santri asal luar Tasik dipusatkan Senin (3/5) dan kembali lagi Selasa (25/5),” ujarnya, menambahkan.

Pada akhirnya, tambah dia, pesantren mengikuti aturan dan imbauan pemerintah dalam rangka ikut mencegah penyebaran Covid-19 di Kabupaten Tasikmalaya. “Kita patuh dan tetap terapkan protokol kesehatan untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” paparnya.

Salah satu guru dan pengurus di Pondok Pesantren Darussalam Rajapolah Indra Setiawan SPdI mengatakan, jumlah santri asal luar Tasikmalaya atau luar daerah yang mondok sekitar 200 orang.

“Kebanyakan santri yang berasal dari luar daerah berada di sekitar wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Untuk prosedur kepulangan santri luar daerah ini tetap harus mendapatkan rekomendasi kesehatan dari petugas kesehatan,” ungkapnya.

Kemudian, lanjut dia, harus mematuhi protokol kesehatan selama di perjalanan dengan menerapkan 5 M. Kepulangan santri luar daerah jelang lebaran oleh pesantren dilaksanakan secara bertahap.

“Dimulai tanggal 2 Mei, sebelum 6-17 Mei atau menjelang dekat lebaran. Santri juga harus memiliki surat izin dari pondok pesantren. Sebetulnya hanya pulang liburan ke rumah, tidak masuk kategori mudik,” jelasnya. (dik)


Komentar